Me First. Me Then

Hamburan otak dan kesadaran

Every Move, He Make It Better

Rabu, 13 Februari 2013

Di pagi hari, di tengah jeda aku ngerjain tugas-tugas yang menumpuk, sebuah pemikiran kembali mengaburkan fokusku. Kamu, lagi-lagi kamu. Ya. Kamu, Brutus. Entah kenapa kamu selalu bisa bikin aku kangen. Pergi pagi pulang sore dari kampus. Kamu udah kerja sekarang. Asisten penelitian adalah awal yang baik untuk ngedeketin kamu jadi dosen. Dipercaya oleh dosen paling senior di KK Marketing SBM. Ya kamu beruntung. Kamu beruntung bikin aku kangen terus ma kamu. Berhasil bukan?

Kosongnya jadwal hari ini harusnya aku manfaatin buat ngerjain tugas atau ke perpustakaan umum yang keren banget itu. Huh. Aku malah gak enak badan. Dingin. Ga ada kamu. Pengen banget tidur-tiduran seharian ngelonin kamu di dalem selimut yang anget. Buatin kamu makan siang. Ngobrol seharian ngomentarin berita-berita baru. Pelukan. Ciuman. Ngendus wangi badan kamu yang aku suka banget itu. Ya. Aku suka banget wangi kamu. Bukan parfumnya. Bukan bau apanya. Tapi bau kamunya. Tergila-gila ma feromon kamu yang bikin aku tenang. Kamu, suami aku, punya nya aku. Aku suka. :)

Pagi ini. Masih pagi. Awal yang baik buat mandi dan bersiap ngampus, ke perpus. Hanya saja. Aku ingin tugas-tugasku selesai dulu. Gampang saja sebenarnya. Hanya saja aku belum tau kemana nyarinya. Apa yang harus aku bahas? Topic research mana yang harus aku dalami. Aku suka konservasi tapi latar belakangku perikanan. Ya. Mungkin konservasi wilayah peisisir? But I have no idea to make it happen. Bukan lagi sawit yang banyak sengketa lahan itu. Bukan lagi masalah supply chainnya komoditas unggulan dari daerah. Aku gak mau. Aku pengen konservasi lahan. Tapi apa?

Harusnya kamu nemenin aku di sini. Maunya aku. Aku mau kamu jadi pikiran kedua aku. Kamu. Brutus. Aku butuh kamu.

#Noted : Lagi manja.

Ini, untuk kita

Postingan pertamaku setelah menikah dan seterusnya.

Malem ini aku gak bisa tidur. Ngeliat Brutus yang lelap banget bikin aku iri kenapa gak bisa tidur semudah itu. Dia lagi sakit. Udah 6x muntah terus. Masuk angin. Mungkin. Kasian. Tapi bukan itu penyebab sepele aku gak tidur. Bukan juga karena udara malem ini lumayan bikin gerah. Mungkin karena kilasan kenangan dulu. Ya. Aku dan Brutus.
Waktu itu Kami belum terlalu saling mengenal tapi sudah cerita banyak hal. Sepele dan seringkali berat. Sangat. Lalu tiba-tiba Kami pacaran walau masih dunia maya. Kemudian juga tiba-tiba Kami menikah dan kuliah (lagi) di kampus yang sama. Jodoh. Begitu aku mikirnya. Ternyata jodoh itu kita sendiri yang ciptakan ada. Bukan karena Tuhan 100% juga.
Barusan aku cium lehernya Brutus. Bau keringet. Leher yang sama yang gak sengaja aku cium pas meluk dia di awal date kami pacaran, memohon agar dia gak pulang secepat itu ke Malaysia, kampusnya dulu. Entah kenapa tiba-tiba juga mukanya ada di depan mukaku. Entah juga reflek aku nutup mata dan terjadilah. Bang! Ciuman pertamaku. Bang! Manis dan seperti sejuta sengatan listrik lembut mengalir. Sesaat setelah Kami mendarat di bumi dia memohon maaf padaku. Hatiku bilang : jangan minta maaf, sayang..please. Dia menunduk, menyesal. Aku yang ikut merasa bersalah pun diam. Sesaat, aku memeluknya kembali, menatap matanya sekali lagi, dan kecupan right to his lips terjadi. Kali ini dengan lidah. Oh my God. Segera aku kendalikan dan… “Jangan minta maaf. Aku gak keberatan.” Dia menatapku, kemudian menunduk, lalu tersenyum, membalas senyumku, tulus.
Itu kenangan yang bener-bener gak bisa aku lupain seumur hidup aku. Ciuman yang terjadi begitu aja…karena sama-sama menginginkannya. Bukan dicium atau mencium siapa. Tapi itulah. Begitu saja. Untung aja gak ketauan penghuni kostan. Baru nyadar Kami ada di ruang tamu kost-kostan. Omg!
………

Dia, pria berjanggut yang tidur di sebelahku, kini, adalah suamiku. Tentu aku udah gak virgin. Dan tentu juga Kami melakukannya setelah halal. Lebih menyenangkan dan gak merasa berdosa. Yang aku rasain saat ini justru karena Kami akan menunda kehamilan selama Kami kuliah. itu tentu sangat berat untuk Kami, khususnya aku. Merasa berdosa, iya. Menginginkan bayi, iya. Namun Kami belum cukup untuk bisa menafkahi bayi Kami kelak. Tidak ada waktu dan penghasilan yang jelas. Kami freelancer. Aku, kerja sebagai konsultan kkp. Dia, sebagai tutor kampus, investor, sekaligus jualan. Belum saatnya.
………

Aku, ini tulisanku pertama kali setelah menikah di sini. Kami sangat saling mencintai. Demi apa pun di dunia, Kami saling memiliki dan sangat ketergantungan. Bahkan gak nyium bau keringetnya setengah hari, aku udah kewalahan. Entahlah. Penyakit pengantin baru mungkin. Eh…udah berapa lama ya Kami menikah?